seorang pria yang sudah berumur...,lbh dari 30 an yang pasti..
berkulit hitam menggunakan batik coklat muda dengan celana panjang bahan berwarna coklat tua..
kulitnya sudah mengendur..,bulu tangan nya sudah berubah warna menjadi putih sama dengan rambutnya yang mungkin dulu nya berwarna hitam...
badannya sudah tidak tegap.. tak ada otot yang terlihat...,yang terlihat hanya seperti daging,lemak dan kulit yang sudah mengendur di berbagai tempat..
ia duduk didalam sebuah kendaraan umum yang ramai dengan penumpang..,ada yang duduk dan berdiri...
di sebelahnya ada seorang tmnnya yang keadaanya sama dengannya...
dia membawa sebuah tas bahan yang bergambarkan not2 musik dan di dalam tas tersebut terisi penuh dengan kertas2...
di kantung bajunya terdapat sebuah pensil kayu kecil..
saat penumpang kendaraan mulai berkurang karna ada beberapa penumpang lain yang turun..,tangan tua lemah itu meraih bagian tas ku yang dapat di jangkau nya..dan memberiku tempat duduk di sebelahnya..
tak ada yang menarik untuk di lihat dari pria tua itu..
tapi saat dia tiba2 mengeluarkan secarik kertas dari tasnya dan pensil kayu yang ada di saku bajunya..
pria tua itu menjadi sangat menarik untuk di perhatikan..
dia terdiam melihat sebaris not yang sudah tertulis di kertas itu...
pikirannya serasa melayang..,entah kemana... tapi mungkin dia serasa sedang mencoba memainkan not2 tersebut...
tapi kalo di pikir..,apa bs membayangkan mendengar not yang kita baca?
sepertinya ya untuk pria tua itu..,tapi untuk ku tentu aja tidak...
setelah terdiam tadi pria tua itu kemudain mencoret beberapa not yang sudah ada dan menggantinya serta melanjutkan menulis sebaris not lagi di bawah baris yang pertama perlahan tapi dengan yakin..
menciptakan barisan not tanpa sebuah alam musik...,itu tepatnya yang di lakukannya di dlm kendaraan umum...
entah siapa pria tua tersebut...
tapi melihatnya membuat sebuah kesadaran bahwa mungkin waktu bisa merubah warna rambut..,keadaan fisik..
tapi waktu blm tentu bs mengubah sebuah kelebihan seseorang...
Monday, August 31, 2009
Thursday, August 20, 2009
terlalu manis menyisakan rasa getir pada akhirnya
banyak rasa yang dapat kita rasakan di dunia ini..
ada pahit, asam, pedas, manis, getir, hambara tau pun kecut...
ga setiap rasa itu berasal dari sebuah makanan tau apa pun yang kita kecap..
malah kadang kala sebuah kejadian malah meninggalkan sebuah rasa yang melebihi yang kita kecap..
adakah pernah merasakan/mengalami sesuatu seperti ini??
sebuah rasa yang ga mungkin kita bisa lari dan tinggalkan..,bukan karna terbelenggu oleh rasa itu..,tapi karna rasa itu begitu manis dan meninggalkan sebuah kesan mendalam. dimana saat kita memutuskan untuk meninggalkan rasa itu atau pun..,maka kita hanya akan merasa hambar dan yang paling tidak kita inggin kan adalah datangnya rasa getir..
sebuah rasa getir yang tak dapat hilang dan menyebabkan kita tidak dapat merasakan rasa apa pun selain rasa getir tersebut...
sekalipun kita dapat merasakan sebuah rasa..,yang dapat kita rasakan hanya rasa manis yang sama..,bukan rasa manis yang lain..,tapi setiap kita merasakan rasa manis itu kembali..,yang ada kita lagi2 seperti terbelenggu oleh nya yang sebenarnya tak ada sesuatu pun yang membelenggu kita dan saat kita sekali lagi memutus kan untuk meninggalkannya yang ada justru bukan hanya sebuah rasa getir yang sama seperti sebelunya yang datang..,tapi rasa getir yang menghujam kita dengan keras dan bertubi yang lebih getir dari sebelumnya..

ketika kita menyadarinya yang tersisa hanya getir itu dan jalan di depan kita dengan segala bayangan manis...yang membuat kita merasa kan getir tersebut..,yang muncul adalah pertanyaan bahwa mampuhkan kita merasakan rasa manis lain tanpa merasakan getir saat kita mengingat rasa manis yang dl pernah kita rasakan..?
atau kah jauh lebih baik kita berhenti merasakan dan mencari rasa manis yang lain dan mencari rasa yang lain dari pada pada ahkirnya harus merasakan getir kembali karna rasa manis??
Sebuah pertanyaan yang tak bisa ku tawab karna rasa manis yang begitu kental membuat ku terus dan terus mencari rasa manis tersebut...walaupun yang ada hanya rasa getir pada akhirnya
ada pahit, asam, pedas, manis, getir, hambara tau pun kecut...
ga setiap rasa itu berasal dari sebuah makanan tau apa pun yang kita kecap..
malah kadang kala sebuah kejadian malah meninggalkan sebuah rasa yang melebihi yang kita kecap..
adakah pernah merasakan/mengalami sesuatu seperti ini??sebuah rasa yang ga mungkin kita bisa lari dan tinggalkan..,bukan karna terbelenggu oleh rasa itu..,tapi karna rasa itu begitu manis dan meninggalkan sebuah kesan mendalam. dimana saat kita memutuskan untuk meninggalkan rasa itu atau pun..,maka kita hanya akan merasa hambar dan yang paling tidak kita inggin kan adalah datangnya rasa getir..
sebuah rasa getir yang tak dapat hilang dan menyebabkan kita tidak dapat merasakan rasa apa pun selain rasa getir tersebut...
sekalipun kita dapat merasakan sebuah rasa..,yang dapat kita rasakan hanya rasa manis yang sama..,bukan rasa manis yang lain..,tapi setiap kita merasakan rasa manis itu kembali..,yang ada kita lagi2 seperti terbelenggu oleh nya yang sebenarnya tak ada sesuatu pun yang membelenggu kita dan saat kita sekali lagi memutus kan untuk meninggalkannya yang ada justru bukan hanya sebuah rasa getir yang sama seperti sebelunya yang datang..,tapi rasa getir yang menghujam kita dengan keras dan bertubi yang lebih getir dari sebelumnya..

ketika kita menyadarinya yang tersisa hanya getir itu dan jalan di depan kita dengan segala bayangan manis...yang membuat kita merasa kan getir tersebut..,yang muncul adalah pertanyaan bahwa mampuhkan kita merasakan rasa manis lain tanpa merasakan getir saat kita mengingat rasa manis yang dl pernah kita rasakan..?
atau kah jauh lebih baik kita berhenti merasakan dan mencari rasa manis yang lain dan mencari rasa yang lain dari pada pada ahkirnya harus merasakan getir kembali karna rasa manis??
Sebuah pertanyaan yang tak bisa ku tawab karna rasa manis yang begitu kental membuat ku terus dan terus mencari rasa manis tersebut...walaupun yang ada hanya rasa getir pada akhirnya
Pilihan kaah?
Hidup itu sebuah pilihan..
Kadang kita harus memilih antara "melupakan" atau "di lupakan".
Mungkin "melupakan" adalah hal yg paling sulit dilakukan menurut banyak org.
Tapi tanpa org2 itu menyadari, sebener nya mungkin lebih mudah "melupakan" dari pada "di lupakan".
Ibarat nya orang yg "melupakan" hanya perlu berusaha keras untuk pergi dari hidup org yg "di lupakan" dan mencampakkan nya tanpa harus peduli dengan apa yg di rasakan oleh org yg "di lupakan" itu.
Kemudian org yg "melupakan" setelah berhasil melupakan org yg "di lupakan" akan tetap menjalani hidupnya dengan normal tanpa tau apa yg terjadi pada "di lupakan".
Sedangkan "di lupakan" harus merasa seakan tersisih, terbuang, tak berguna, tersiasiakan, dan msh banyak lagi perasaan terluka lainnya yg di rasakan nya yg tidak bisa di luangkan dengan kata2..,yg paling utama adalah IA MERASA DIRINYA TIDAK DIBUTUHKAN.
Selain hal itu yg terjadi pada "di lupakan" mungkin pada akhirnya dia akan menjadi org yg penutup dan menutup dirinya tanpa terkecuali pada siapa pun.
Dan bila "di lupakan" tidak menjadi org yg penutup, dia akan menjadi org yg memiliki trauma mendalam dan menjadi org yg kurang bersahabat dengan org lain.
Jadi mana yang lebih berat?"di lupakan" atau "melupakan"?
Suatu saat yang tak mengert akan mengerti dan yang tak menyadari nya akan menyadarinya..
-refisi 04/09/2007 8:48 pm-
Kadang kita harus memilih antara "melupakan" atau "di lupakan".
Mungkin "melupakan" adalah hal yg paling sulit dilakukan menurut banyak org.
Tapi tanpa org2 itu menyadari, sebener nya mungkin lebih mudah "melupakan" dari pada "di lupakan".
Ibarat nya orang yg "melupakan" hanya perlu berusaha keras untuk pergi dari hidup org yg "di lupakan" dan mencampakkan nya tanpa harus peduli dengan apa yg di rasakan oleh org yg "di lupakan" itu.
Kemudian org yg "melupakan" setelah berhasil melupakan org yg "di lupakan" akan tetap menjalani hidupnya dengan normal tanpa tau apa yg terjadi pada "di lupakan".
Sedangkan "di lupakan" harus merasa seakan tersisih, terbuang, tak berguna, tersiasiakan, dan msh banyak lagi perasaan terluka lainnya yg di rasakan nya yg tidak bisa di luangkan dengan kata2..,yg paling utama adalah IA MERASA DIRINYA TIDAK DIBUTUHKAN.
Selain hal itu yg terjadi pada "di lupakan" mungkin pada akhirnya dia akan menjadi org yg penutup dan menutup dirinya tanpa terkecuali pada siapa pun.
Dan bila "di lupakan" tidak menjadi org yg penutup, dia akan menjadi org yg memiliki trauma mendalam dan menjadi org yg kurang bersahabat dengan org lain.
Jadi mana yang lebih berat?"di lupakan" atau "melupakan"?
Suatu saat yang tak mengert akan mengerti dan yang tak menyadari nya akan menyadarinya..
-refisi 04/09/2007 8:48 pm-
Bukan sesutu yang penting..,tapi...belum tentu bukan sesuatu yang penting
Kalau selama ni lu biarin mata lu tertutup untuk umum, buka sekarang juga!!
Kalau menurut lu dunia lu penuh dgn warna, coba hayati tiap 1 warna nya...
Kalau lu merasa banyak org di sekeliling lu, kenali satu persatu wajah org2 itu...
Kalau lu merasa jln yg lu jln in udh baik, perbaiki jln org laen yg ga baik...
Kalau lu ngerasa sudah baik buat perbaiki jln org laen,jgn seret dia ke jln lu...!!
Kalau lu merasa udh py org yg ngerti in lu, tanya ke diri lu "apa lu udh semengerti dia mengerti lu?"
Kalau lu udh punya org yg lu sayang, tanya pada hati lu.. "apa lu masi ada org yg lebih lu sayang dr pada dia?"
Sekarang liat sekeliling lu...!
Ada banyak org yg ngenganggap lu sebagai sahabat mereka.., tp justru sebalik na yg lu lakukan pd mereka....
Ada banyak org yg sayang sama lu..,bahkan melebihi hati lu buat mereka...
Ada banyak org yg hati nya terluka krn lu.., tp ga pernah lu obatin...
Masih banyak hal lain yang mungkin lu anggap sepele tapi memang nyata ada nya...
Jgn pernah memandang sesuatu hny dgn kata "gw rasa, gw pikir, dari yg gw liat/denger atau pun menurut gw..."!!!
Karna semua yang nama nya "gw rasa, gw pikir, dari yg gw liat/denger ataupun menurut gw..." belum tentu mutlak benar atau pun menjadi benar..
Karna semua hal yg lu kerasin dlm diri lu baik lu sadar mau pun ga lu sadar itu justru biasa bikin segala yg lu milikin hilang seperti hanya dgn 1kali lu mengedipkan mata lu....
-Refisi 10/09/2006 5:34 pm-
Kalau menurut lu dunia lu penuh dgn warna, coba hayati tiap 1 warna nya...
Kalau lu merasa banyak org di sekeliling lu, kenali satu persatu wajah org2 itu...
Kalau lu merasa jln yg lu jln in udh baik, perbaiki jln org laen yg ga baik...
Kalau lu ngerasa sudah baik buat perbaiki jln org laen,jgn seret dia ke jln lu...!!
Kalau lu merasa udh py org yg ngerti in lu, tanya ke diri lu "apa lu udh semengerti dia mengerti lu?"
Kalau lu udh punya org yg lu sayang, tanya pada hati lu.. "apa lu masi ada org yg lebih lu sayang dr pada dia?"
Sekarang liat sekeliling lu...!
Ada banyak org yg ngenganggap lu sebagai sahabat mereka.., tp justru sebalik na yg lu lakukan pd mereka....
Ada banyak org yg sayang sama lu..,bahkan melebihi hati lu buat mereka...
Ada banyak org yg hati nya terluka krn lu.., tp ga pernah lu obatin...
Masih banyak hal lain yang mungkin lu anggap sepele tapi memang nyata ada nya...
Jgn pernah memandang sesuatu hny dgn kata "gw rasa, gw pikir, dari yg gw liat/denger atau pun menurut gw..."!!!
Karna semua yang nama nya "gw rasa, gw pikir, dari yg gw liat/denger ataupun menurut gw..." belum tentu mutlak benar atau pun menjadi benar..
Karna semua hal yg lu kerasin dlm diri lu baik lu sadar mau pun ga lu sadar itu justru biasa bikin segala yg lu milikin hilang seperti hanya dgn 1kali lu mengedipkan mata lu....
-Refisi 10/09/2006 5:34 pm-
Subscribe to:
Comments (Atom)